Bantuan hukum untuk rakyat miskin, buta hukum, dan korban pelanggaran HAM

KOMNAS HAM dan KIKA mengirimkan amicus curiae untuk bebaskan stella

“KOMNAS HAM DAN KIKA MENGIRIMKAN AMICUS CURIAE UNTUK BEBASKAN STELLA”

Kamis, 11/11/2021 merupakan sidang ke 27 kasus kriminalisasi konsumen Stella Monica di Pengadilan Negeri Surabaya karena curhat di media sosial. Berdasarkan Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) PN Surabaya, hari ini merupakan hari ke 226 terhitung sejak perkara tersebut teregistrasi di PN Surabaya pada tanggal 30 Maret 2021. Agenda sidang kali ini adalah Replik dari Jaksa Penuntut Umum atas Pledoi dari Stella Monica dan Penasihat Hukumnya yang dibacakan pada tanggal 28 Oktober 2021.

Sejak Jaksa Penuntut Umum menuntut Stella Monica dengan tuntutan 1 tahun penjara dan denda 10 juta rupiah subsider 2 bulan penjara, dukungan dari berbagai pihak untuk membebaskan Stella Monica terus mengalir. Setelah YLPK mengirimkan legal opini dan ICJR (Institute for Criminal Justice Reform) mengirimkan amicus curiae (sahabat peradilan), kini Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dan Kaukus Indonesia Untuk Kebebasan Akademik (KIKA) diketahui juga mengirimkan amicus curiae yang dikirimkan kepada PN Surabaya yang pada pokoknya meminta agar Stella dibebaskan.


“Tim Penasihat Hukum menerima informasi bahwa Komnas HAM dan KIKA telah mengirimkan amicus curiae kepada PN Surabaya terkait kasus Stella Monica. Untuk lebih jelasnya terkait apa isi amicus curiae yang dikirimkan bisa dikonfirmasi langsung kepada dua lembaga tersebut. Yang kami tahu, intinya kedua lembaga tersebut meminta agar Stella dibebaskan”. Ujar Habibus Shalihin, SH. dari LBH Surabaya selaku salah satu penasihat hukum Stella Monica.

Hosnan, SH. dari LBH Buruh dan Rakyat Jawa Timur penasihat hukum Stella Monica lainnya menambahkan bahwa banyaknya dukungan dari berbagai pihak terhadap pembebasan Stella Monica menunjukkan bahwa perkara tersebut tidak layak untuk disidangkan. Selaku konsumen seharusnya Stella Monica mendapatkan perlindungan, bukan dikriminalisasi.

“Kami mengapresiasi segala bentuk dukungan dari berbagai pihak yang menaruh perhatian terhadap kasus Stella Monica. Ada yang mengirimkan legal opini, amicus curiae, menandatangani petisi, dll. Ini menunjukkan bahwa kasus yang menimpa Stella Monica bukan semata-mata ketidakadilan bagi Stella melainkan ketidakadilan bagi masyarakat. Dengan kata lain, kriminalisasi terhadap Stella selaku konsumen merupakan ketidakadilan bagi masyarakat. Sehingga berdasarkan ketentuan pasal 5 ayat (1) UU 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, Majelis Hakim wajib mempertimbangkan masukan dari masyarakat tersebut dan membebaskan Stella Monica dari segala tuntutan hukum”. Tambah Hosnan.

Sementara itu, Anin dari PAKU ITE menginformasikan bahwa hingga saat ini (kamis, 11/11/2021) petisi tentang Stella Monica di change.org telah ditandatangani oleh lebih dari 20.000 orang. "Sebagian besar mereka yang menandatangani petisi berharap Stella tidak dikriminalisasi, Stella harus dibebaskan karena dia adalah konsumen yang harus dilindungi. Ada juga yang khawatir ketika memberikan review tidak sesuai keinginan pelaku usaha akan dikriminalisasi seperti yang dialami oleh Stella". Pungkas Anin.


Surabaya, 11 November 2021

Koalisi Masyarakat Pembela Konsumen (KOMPAK) terdiri dari: LBH Surabaya, SAFEnet (Southeast Asia Freedom of Expression Network), PAKU ITE (Paguyuban Korban UU ITE), LBH FSP KEP KSPI Gresik, LBH Buruh dan Rakyat Jawa Timur, Amnesty International Indonesia 


Hubungi KOMPAK lewat 

Anin (PAKU ITE): +62 896-7567-9568

Habibus Shalihin SH (LBH Surabaya): +62 823-3023-1599