Bantuan hukum untuk rakyat miskin, buta hukum, dan korban pelanggaran HAM

Stop Kekerasan Seksual! Segera Usut Tuntas Kekerasan Seksual yang Diduga Dilakukan Appridzani Syahfrullah! (Ex-Anggota LAMRI)

Pada 1 November 2021 silam, seorang laki-laki bernama Appridzani Syahfrullah (AS) menjadi kecaman publik setelah diduga melakukan kekerasan seksual kepada beberapa perempuan. Dugaan kekerasan seksual yang dilakukan AS makin menjadi perhatian publik setelah diketahui sedikitnya ada 6 orang perempuan yang menjadi korban—di mana beberapa korban kini mengalami gangguan kesehatan mental (PTSD atau Post Traumatic Stress Disorder), sehingga korban tidak bisa menjalani kesehariannya secara normal.

 

Hingga rilis pers ini ditulis, baru terdapat 1 (satu) korban yang berani menempuh jalur hukum untuk menyelesaikan kasus kekerasan seksual yang dialami. Dalam keterangannya, korban 1 (istilah ini digunakan untuk melindungi identitas korban) mengaku mengalami kekerasan seksual oleh AS pada tanggal 12 Oktober 2016, aksi tersebut dilakukan oleh terduga pelaku setelah korban tak berdaya akibat pengaruh alkohol. Berikut kronologinya:

  • Sekitar pukul 22.30 WIB: Korban bersama terduga pelaku dan 1 temannya bertemu di sebuah kontrakan, semula mereka memiliki agenda diskusi sembari merayakan ulang tahun. Di tengah pertemuan, terduga pelaku mengajak korban dan temannya untuk merayakan ulang tahun dengan minum minuman beralkohol.
  • Sekitar pukul 01.00 WIB: Teman korban yang mulai kehilangan kesadaran memutuskan untuk berpindah tempat ke lantai 2 kontrakannya.
  • Sekitar pukul 02.00 WIB: Melihat korban tidak berdaya karena pengaruh alkohol, terduga pelaku mulai melancarkan aksi kekerasan seksualnya dengan mencium paksa, meraba beberapa bagian tubuh korban dan memaksa korban melakukan seks oral.
  • Sekitar pukul 03.30 WIB: Korban merasa pusing dan lemas karena pengaruh alkohol dan juga kehabisan tenaga untuk melawan terduga pelaku, korban akhirnya tertidur.
  • Sekitar pukul 06:00 WIB: Teman korban yang sudah bangun mengantar korban pulang ke kosnya.
  • Kejadian ini berulang beberapa hari kemudian ketika korban hendak mendengar keterangan dari terduga pelaku terkait tindakannya pada 12 Oktober 2016.

Berdasarkan keterangan korban di atas, maka diketahui terduga pelaku AS telah melanggar pasal 289 KUHP (barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, diancam karena melakukan perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun).

Mendorong Penegakan Hukum yang Adil dan Berpihak pada Pemenuhan Hak-Hak Korban 

Berbagai upaya dilakukan untuk mendorong pemulihan dan pemenuhan hak-hak korban atas keadilan. Upaya non-litigasi telah ditempuh lewat komunikasi dengan pihak Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (tempat terduga pelaku berkuliah)—guna memberi bukti-bukti dan informasi terkait peristiwa kekerasan seksual tersebut, yang diharapkan bisa mendorong pemberian sanksi akademis terhadap terduga pelaku, agar kooperatif menuntaskan proses hukum yang berjalan.


Selain upaya di atas, korban ke-1 bersama tim Aliansi Anti Kekerasan Seksual Surabaya, pada Senin, 17 Januari 2022 juga telah mendorong pelaporan terduga pelaku ke Polda Jawa Timur. Laporan ini menjadi sangat penting—selain sebagai mekanisme keadilan dan pemenuhan hak-hak korban—juga merupakan salah satu cara guna meyakinkan korban-korban lainnya untuk berani melakukan pelaporan.


Menyikapi banyaknya kasus kekerasan seksual di Jawa Timur, dan berkaca pada banyaknya kasus kekerasan seksual yang tak kunjung terselesaikan, maka Aliansi Anti Kekerasan Seksual menuntut kepada Irjen. Pol. Dr. Nico Afinta selaku Kapolda Jawa Timur untuk:

  1. Secara langsung memimpin dan memantau proses penyelidikan dan pemeriksaan terkait peristiwa kekerasan seksual yang diduga dilakukan oleh Appridzani Syahfrullah.
  2. Secepatnya memulai penyelidikan dan pemeriksaan terhadap peristiwa kekerasan seksual yang diduga dilakukan oleh Appridzani Syahfrullah.
  3. Secara transparan menginformasikan setiap temuan dan perkembangan proses penyelidikan.
  4. Segera melakukan penangkapan kepada terduga pelaku Appridzani Syahfrullah setelah ditemukannya alat bukti permulaan yang cukup.
  5. Mengutamakan perlindungan dan menjaga kerahasiaan korban dalam setiap proses hukum yang dilakukan Polda Jawa Timur.

Aliansi Anti Kekerasan Seksual Surabaya

Tim Advokasi 

1. Unit Konsultasi dan Bantuan Hukum (UKBH) Universitas Airlangga

2. Laskar Mahasiswa Republik Indonesia (LAMRI) Surabaya

3. Savy Amira Women’s Crisis Centre

4. LBH Sembada Surabaya

5. YLBHI-LBH Surabaya

6. Indonesia Feminis

7. Front Santri Melawan Kekerasan Seksual (FORMUJERES)


Narahubung

1. Hotline LAMRI             : 081325351230 (WhatsApp)

2. LBH Sembada Surabaya   : 082135585185 (WhatsApp)

3. Indonesia Feminis                : 089675679568 (Whatsapp)

4. YLBHI-LBH Surabaya      : 083856242782(Whatsapp)