Bantuan hukum untuk rakyat miskin, buta hukum, dan korban pelanggaran HAM

Perlindungan Terhadap Perempuan Yang Berprofesi Sebagai Driver Ojek Online

Gender adalah perbedaan peran, sifat, tugas dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan yang dibentuk, dibuat dan dikonstruksikan oleh masyarakat dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman (Sembiring, 2015: 111). Gender menjadi hal krusial untuk menjelaskan antara laki-laki dan perempuan beserta sifat-sifat yang melekat secara kodrat pada masing-masingnya. Dimana laki-laki dianggap sebagai pribadi kuat, rasional, perkasa, dan jantan. Sementara perempuan dianggap sebagai pribadi yang lemah lembut, emosional, atau keibuan (Probosiwi, 2015:42). Belakangan tahun, istilah gender menjadi salah satu pembahasan utama setiap forum diskusi dan bahan penulisan dalam perubahan sosial dan suatu pembangunan berkelanjutan. Pun di Indonesia, gender menjadi bagian dari perealisasian program organisasi pemerintah maupun non pemerintah, seperti halnya program pemberdayaan masyarakat. Adapun permasalahan yang berkaitan dengan gender adalah mengenai kedudukan dan hak-hak dari perempuan dan laki-laki, dimana penuntutan pengakuan kesetaraan tersebut telah sampai pada pembuatan hukum tertulis maupun tidak tertulis.

Lapangan pekerjaan saat ini mengikuti perkembangan teknologi yang salah satunya adalah bidang transportasi online sebagai driver ojek online. Pekerjaan tersebut tidak hanya dapat dilaksanakan oleh laki-laki saja namun juga perempuan berkesempatan sama untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. Ketika perempuan melakukan profesi sebagai driver ojek online, memiliki alasan tersendiri yakni untuk kebutuhan rumah tangga atau finansial yang besar dan mendesak. Dalam berlangsungnya pekerjaan perempuan sebagai driver ojek online, terdapat permasalahan dan hambatan dari 2 (dua) sisi. Dari segi pihak mitra, kerap kali pihak mitra tidak memberikan hak dan kebijakan khusus bagi driver perempuan sehingga harus memiliki mental dan fisik kuat dalam melawan persaingan dengan driver laki-laki. Dari segi customer, pengemudi wanita seringkali mendapatkan cancel atau pembatalan pesanan oleh calon penumpang dengan berbagai keluhan yang timbul akibat gender perempuan yang menjadi statusnya tersebut. Selain itu, pengemudi wanita juga kerap kali memberikan sikap kurang nyaman seperti pelecehan dalam berbagai bentuk baik verbal maupun non verbal.

Dalam menghadapi pelecehan perempuan seringkali menggunakan perlawanan secara tidak langsung untuk meminimalisir timbulnya bahaya yang lebih sebagai reaksi lanjutan dari pelaku pelecehan itu sendiri. Atas adanya fenomena dan permasalahan tersebut diatas, perlindungan yang dapat dihadirkan bagi para perempuan berprofesi sebagai driver ojek online bersumber dari pihak mitra, sebagai contoh pihak aplikator dapat membuat kebijakan seperti driver perempuan akan lebih sering mendapatkan penumpang atau customer perempuan demi kenyamanan pengemudi dan penumpang itu sendiri, dan hal lain yang lebih memperhatikan kehidupan dan perlindungan bagi profesi ojek online perempuan serta menyadari bahwa perempuan bukan hanya alat promosi dan marketing saja melainkan ada hak-hak mutlak yang harus dipenuhi.

Kemudian perlindungan dari rekan sosial atau masyarakat, di Indonesia telah ada paguyuban-paguyuban driver ojek online perempuan seperti Grab Queen Malang yang anggotanya saling menguatkan mental dan fisik serta turut melakukan upaya-upaya supaya hak-haknya dapat terealisasikan. Tentu seluruh elemen masyarakat perlu mengingat bahwa gender bukanlah kasus sosial untuk mendapatkan bantuan, melainkan menciptakan kesadaran masyarakat terhadap sebuah fenomena yang sukar dihindari. Pun terhadap ojek online, segenap pihak yang terlibat dituntut kemandiriannya terlebih lagi yang berstatus sebagai perempuan atau wanita. Profesi dalam fungsinya adalah sebagai wadah menumbuhkan produktivitas, namun jenis kelamin perempuan kerap kali justru menjadi batasan bagi kaum perempuan itu sendiri. Maka peran komunitas dan jejaring sosial bagi penyandang profesi ojek online perempuan ini perlu adanya penguatan. Dan yang tak kalah penting adalah pemahaman dalam masyarakat itu sendiri, untuk tidak membedakan keterbatasan fisik dan justru melestarikan stigma buruk di antara pria dan perempuan dalam mengabdi pada profesinya.


Penulis: 

Wanda Farda Wahdini (Alumnus Kalambahu 2022)

 

Referensi:

-  Saptari and Holzner. 1997. Perempuan, Kerja, dan Perubahan Sosial: Sebuah pengantar Studi Perempuan. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

-  Abdullah,  I.,  2003.  Penelitian  berwawasan gender  dalam  ilmu  sosial. Jurnal Humaniora, 15(3), pp.265-275.

-  Verasatiwi,  I.  and  Wulan,  R.R.,  2018.  Studi Fenomenologi Pengemudi Ojek Online Perempuan  Di  Kota  Bandung  Dalam Kajian  Feminisme. Journal  Acta Diurna, 14(1).